Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Saturday, 27 June 2015

Kaledo, Masakan Khas Lembah Palu

curcollogiku tengtang kuliner khas kota palu kaledo
Satu rasa, karena mulai dari cara mengolah dan bumbu yang digunakan sama, perbedaannya hanya pada, pada Uta Poiti selain menggunakan potongan tulang yang masih tertempel daging, ditambah dengan daging murni serta jeroan.Sedangkan pada masakan Kaledo, murni menggunakan potongan Kaki Sapi.
-          KALEDO SAJIAN KEHORMATAN
Dahulunya, Kaledo merupakan sajian kehormatan oleh para raja-raja di Lembah Palu bagi para tamu kehormatan dari kaum bangsawan yang disebut dengan Toma Oge atau Toma Langgai atau Langga Nunu. Biasanya, mereka adalah para pembesar dari sub-sub kerajaan di lembah Palu.
Pada jamuan-jamuan makan yang diselenggarakan, para tamu dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan status sosial undangan. Untuk rajaatau pembesar kerajaan, jamuan makan bersama raja berlangsung didalam ruangan rumah(Rara Banua). Untuk para punggawa kerajaan, jamuan makan berlangsung di teras rumah (Ri Tambale), sedangkan untuk rakyat biasa jamuan makan berlangsung dihalaman rumah (Ri Poumbu).
Selama acara jamuan makan, ada etika yang harus dipatuhi seluruh peserta, yakni acara makan harus diawali oleh pembesar, dan jika sang pembesar (Toma Oge) belum selesai makan maka peserta tidak boleh berhenti makan, boleh berhenti dengan syarat tidak boleh cuci tangan.
Jika ketentuan tersebut dilanggar peserta, maka pelaku akan dikenai sanksi adat atau denda yang disebut dengan Kivuatau Sompo.Sangsi atau denda bisa berupa sejumlah uang atau hewan ternak seperti Kerbau, besaran denda disesuaikan dengan kondisi ekonomi peserta.
-          TEHNIK MEMASAK
Para juru masak Kaledo masa lampau dan sekarang memiliki cara mengolah kaki lembu yang sedikit berbeda. Para juru masak masa lampau, akan memasak satu potong penuh ekor sapi, sedangkan masa kini kaki sapi yang dimasak telah dipotong-potong terlebih dahulu.
Kesamaannya adalah, tulang kaki yang telah dibersihkan dari kulit, hanya dimasak jika air dalam belanga telah mendidih, agar tulang kaki sapi tidak berbau amis. Setelah masak dalam hitungan waktu berdasarkan naluri juru masak, tulang diangkat dan ditiriskan.
Begitupun ketika memasak bumbu, seperti garam dan cabe, bumbu yang telah ditumbuh halus baru dimasukan kedalam belanga juga setelah air mendidih. Khusus untuk asam, yang digunakan hanya asam mentah.
Asam mentah dimasak terlebih dahulu hingga lunak. Selanjutnya dikupas dan remas kemudian disaring untuk diambil air perasannya saja.
Juru masak pada masa lampau, menggunakan daun khusus sebagai penyedap yang disebut Tava Nusuka, sayangnya Pantjewa kesulitan meterjemahkan arti tumbuhan ini dalam Bahasa Indonesia.
Juru masak masa kini sudah tidak lagi menggunakan Tava Nusuka, karena selain langka juga karena juru masak sekarang lebih menyukai penyedap modern.
Setelah juru masak merasa Kaledo telah matang, juru masak akan melakukan uji rasa atau mencicipi masakan (Nipesana).
-          PENYAJIAN
Pada masa kerajaan, Kaledo disajikan dalam satu wadah yang disebut Dula Mpanganggu. Kaledo, tidak hanya bisa dinikmati dengan nasi, tapi masyarakat Lembah Palu, dari dulu hingga sekarang lebih suka menikmati dengan Kasubi (Singkong kukus), atau Loka Pagata (jawa: pisang kepok), yang ditempatkan dalam Dula Mpokada atau Dula Palanggu(bakul dari kuningan berkaki). Seluruh masakan yang disajikan dengan alas dan penutup daun pisang.
Hidangan tidak dinikmati dengan mencampur langsung seluruh sajian dalam piring, melainkan dengan diisi pada piring atau mangkok kelapa (ri banga nggaluku).
Peserta jamuan mengambil sedikit demi sedikit ubi atau pisang, kemudian menyeruput Kaledo ri banga nggaluku. Dengan begitu, masakan tidak akan dikerubuti lalat dan bebas debu. Selain itu, masakan yang tersisa bisa dibawa pulang.
Pada masa sekarang, inovasi masakan Kaledo tidak hanya pada campuran bumbu. Sejumlah warung makan yang menyajikan masakan Kaledo adan melakukan inovasi dengan menghilangkang tulang, yang disebut Kaledo Talang atau tanpa tulang.
serius kan...????

Wednesday, 17 June 2015

Fakta Unik Tentang Kelor (2)

Fakta Unik Tentang Kelor (2)
Masyarakat Lembah Palu, Sulawesi Tengah, sangat dekat dengan tumbuhan dengan nama latin Moringa Oleifera ini. Begitu dekatnya, seolah Kelor telah menjadi identitas tersendiri bagi etnis asli lembah Palu, Kaili. Sebagai bentuk cinta dan kebanggaan terhadap tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sayur ini.
Entah kebetulan atau tidak, daun Kelor yang oleh etnik Kaili dimasak secara sederhana, dengan cukup menggunakan bumbu mulai bawang merah, garam, penyedap dan cabai hijau ini, yang jika diolah dengan cara tepat akan menghasilkan rasa luar biasa sedapnya.
Dan dibalik itu semua, ternyata dunia telah mengakui, bahwa tumbuhan Kelor dengan ciri fisik daun berbentuk oval telur, berukuran kecil pada sususan majemuk dalam satu tangkai, bunga berwarna putih kekuningan, bentuk buah segitiga panjang.
Ternyata, daun Kelor memiliki banyak khasiat dan kegunaan. Karena bermanfaat banyak untuk kesehatan, maka tak heran pula jika penduduk dunia telah memanfaatkan Kelor sebagai bahan pengobatan.
Beberapa situs perusahaan farmasi yang telah mengolah ekstrak daun kelor sebagai obat menyebutkan, bahwa kelor bermanfaat untuk sejumlah penyakit dalam.
Misal, peneliti dari India, Senthil Kumar menyebutkan bahwa Kelor atau Moringa Oleifera bisa digunakan untuk Pelindung Hati atau hepatoprotektor. Peneliti Universitas Gajah Mada menyebutkan bahwa daun kelor bermanfaat untuk pengobatan pencernaan tubuh, seperti luka usus atau luka lambung.
Dan, LKBN Antara edisi 19 April 2010 memberitakan tentang Dwiki Rendra G.S., (16), siswa Kelas XI SMA Theresiana 1 Semarang - Jawa Tengah, yang meneliti khasiat tanaman kelor (Moringa Oleifera) meraih medali emas pada International Conference of Young Scientis (ICYS) Tahun 2010 di Bali.
Hasil penelitian lainnya menyebutkan, bahwa daun moringa oleifera memiliki efek energy dingin, yang cocok digunakan sebagai penyembuhan penyakit yang disebabkan energy panas, seperti radang atau kanker.
Daun moringa oleifera memiliki kandungan zat-zat nutrisi dengan kadar tinggi. Contoh, kandungan vitamin C dalam daun kelor yang bisa mencapai tujuh kali lipat dari kandungan vitamin C dalam jeruk. Maka, tidak heran jika daun kelor juga memiliki manfaat sebagai antioksidan.
Selain itu, kandungan vitamin A dalam daun kelor ini empat kali lipat dibanding kandungan vitamin A dalam wortel. Kandungan kalsium dalam daun kelor juga memiliki kandungan empat kali lebih banyak dibandingkan dengan kalsium susu.
So…. berbanggalah jadi orang Kaili sebagai pengkonsumsi Kelor.

Cara Orang Palu Memasak Sayur Kelor

Cara Orang Palu Memasak Sayur Kelor
Untuk memasak sayur Kelor versi orang Palu, cukup dengan resep sederhana. Meski resep dan cara memasaknya sangat sederhana, jika tidak melalui proses yang benar, jangan harap kita dapatkan Uta Kelo segar, harum dan nikmat, utamanya pada proses memasukkan santan kepala.
Biasanya Uta Kelo diolah dengan berbagai campuran, seperti ubi kayu (kasubi), Terong (Palola) serta pisang kepok muda, kemudian dicampur dengan sedikit udang kering atau ebi (lamale) sebagai pengharum.

SELENGKAPNYA BACA DISINI
lahan tani lahan tani lahan tani lahan tani