Showing posts with label Curcollogi-ku. Show all posts
Showing posts with label Curcollogi-ku. Show all posts

Wednesday, 17 June 2015

Wisata Alam Air Panas Kaliali


Wisata Alam Air Panas Kaliali
air panas kaliali desa pulu kecamatan dolo barat kabupaten sigi sulawesi tengahObyek wisata alam Air Panas Kaliali yang terletak di Desa Pulu – Kecamatan Dolo Barat – Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah kian digemari masyarakat untuk berwisata menikmati sensasi air panas alami yang bertemu langsung dengan dinginnya aliran air Sungai Pemma, dibawah suasana alami rimbun pepohonan dan pegunungan.


Lokasi obyek wisata Air Panas Kaliali yang oleh sejumlah warga diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan sejumlah penyakit ini, berjarak sekitar 35 kilometer dari Kota Palu, yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, selama antara 30 – 50 menit perjalanan.
Selama perjalanan menuju Air Panas Kaliali dari arah Kota Palu, kita akan disuguhi pemandangan alam persawahan dan pegunungan yang membiru.

Setiba di lokasi, memang belum ada tanda khusus yang mencolok obyek wisata ini, karena memang tempat ini masih dianggap dan dinilai tempat bisa oleh pemerintah setempat. Namun kita bisa menanyakan kepada warga, mungkin juga sambil beristirahat sambil melepas penat perjalanan.

Jarak dari jalan poros Palu – Bangga ke lokasi sekitar 300 – 400 meter, dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua adn roda empat. Kemudian kita akan jumpai tanah lapang untuk parkir kendaraan, pada hari libur warga mengenaan tarif parkir kepada pengunjung.
Dari tempat parkir kendaraan menuju lokasi kira-kira sejauh 60 meter. Dan sensasi alam pegunungan, hawa sejuk, dingin sungai dan yang utama Air Panas Kalilai akan dengan ramah menyambut Anda.

Salam Ciliwung



Salam Ciliwung
Salam Ciliwung, peserta Pelatihan Investigasi masyarakat marjinal yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Media Nusantara (PPMN)

Fakta Unik Tentang Kelor (1)

 Foto diambil dari Grub FB Kaili Mpongei
Masyarakat beberapa daerah di Jawa, menggunakan daun kelor untuk memandikan jenazah. Konon, penggunaan daun kelor dalam prosesi memandikan jenazah ini bertujuan untuk menggelontorkan ilmu-ilmu kedigdayaan (ilmu hitam), atau pengaruh pengaruh ilmu kadigdayaan lainnya.
Oleh sebab itu, mereka tidak memanfaatkan kelor untuk dimasak menjadi sayur. Namun, konon sebagian masyarakat di beberapa daerah di jawa, ada yang memanfaatkan daun atau buah kelor sebagai sayur.
Itulah sebagain mitos tentang daun kelor yang berkembang di daerahku, Blitar, Jawa Timur.
Namun, di daerahku saat ini, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mitologi yang berkembang ditengah masyarakat juga berkembang jadi anekdot. Pasalnya, disebut-sebut, orang jawa di palu yang sudah makan sayur kelor tidak akan bisa pulang ke jawa. Kalaupun bisa pulang ke jawa, dia akan ingat terus palu dan kembali ke Bumi Tadulako ini.
Pernah ada orang jawa yang menjawab dengan guyonan, “Kalau dia Cuma mampu makan kelor, mana bisa dia mampu beli tiket pesawat ataupun kapal laut,”.
Maaf itu sekedar guyonan yach…
Bagi masyarakat asli Lembah Palu dari Suku Kaili, Kelor merupakan sayur terbaik dan terlezat. Kerena jika diolah melalui prosedur dan bumbu yang tepat, maka akan kita dapati sayur yang sungguh lezat. Apalagi jika sayur kelor (bahasa Kailinya Uta Kelo) disandingkan dengan sambal Duwo (penja) atau ikan asin yang dipanggang, kemudian diolesi sambal cabai rawit yang masih hijau dengan minyak kelapa tradisional.
Hhmmmm……………………
Sebagai campuran, Kelor bisa dicampur dengan Ubi Kayu (kasubi) atau Terong (palola) atau pisang sepatu/kapok muda (pisang=loka), kemudian sedikit lamale / udang kering / ebi yang berfungsi sebagai pengharum/penyedap.
Untuk mendapatkan sensasi rasa maksimal dari sayur kelor, harus menggunakan teknik yang tepat.
Bagaimanakah tekniknya?
Nantikan dalam coretan berikutnya………… :P :P :D

Pedati Tebarkan Virus Kasih Sayang di Pinggir Kali

pedati
Konon, angka 9 merupakan simbol keberuntungan. Dalam permainan (judi) kartu, Sembilan merupakan kemenangan. Bagi manusia, usia 9 tahun adalah masa transisi dari kanak-kanak ke masa remaja.
Dan pada Sabtu malam Minggu, 14/022015, diusia ke Sembilan ini, yang diperingati di Pala Toda atau sekarang lebih dikenal dengan Maesa Ujung, tepat disamping jembatan gantung penghubung Maesa – Nunu, dalam acara yang sederhana namun meriah oleh penampilan puluhan sanggar seni etnik Kaili. Sanggar Seni Pedati membuktikan eksistensinya pada bidang seni budaya, dengan mengajak sejumlah sanggar untuk tampil bersama, kolaborasi antar sanggar utamanya dari daerah yang dikenal sering terlibat bentrokan.
“Jika dulu kawan-kawan pernah saling bertukar batu (saling lempar batu dalam bentrok), sekarang silahkan duel satu panggung,” kata Smiet Lalove, ketua Sanggar Seni Pedati dengan gaya khasnya yang kocak tapi penuh makna perdamaian.
smiet lalove ketua sanggar seni Pedati
Pada acara yang begitu kental dengan nuansa kebersamaan, persaudaraan dan kekerabatan itu, pengunjung disiapkan karpet untuk alas duduk. Makanan yang disuguhkan pun merupakan kesukaan masyarakat daerah ini, ubi Kayu (kasubi).
smieth
Bahkan, hingga lewat tengah malam, beberapa sanggar yang belum tampil tetap semangat menunggu giliran untuk menampilkan musiknya. Pemutaran film pendek sebagai selingan, mendapat applause pengunjung begitu memahami pesan dari film-film yang diputar.
Dan di usia ke-9 ini, sekali lagi Pedati seolah ingin mengatakan kepada masyarakat, bahwa seni dan budaya mampu digunakan sebagai alat perekat kembali, rasa persaudaraan yang pernah terbelah oleh konflik.
Seni-budaya bisa menjadi sarana komunikasi dan lobby perdamaian.

Selamat ulang tahun Pedati.
Selamat dan terus berkarya.

Salam Budaya.

SS Lewuto Tidak Hanya Mahir Memainkan Musik

ss lewuto
Meski berusaha mengangkat musik etnik Kaili – Sulawesi Tengah, namun bukan berarti Sanggar Seni (SS) Lewuto tidak mampu menyuguhkan lagu-lagu kontemporer mulai pop, rock hingga jazz dalam aransemen etnik Karambangan.

Bahkan, lagu rock legendaris seperti Titanium milik David Gueta mampu dibawakan dengan apik dan unik oleh Ryka.

SS Lewuto yang binaan Mierna Lukman ini beranggotakan sekira 12 personil, yang terbagi atas enam pemusik dan enam vokalis. Masing-masing pemusik adalah Roy (gitaris bassis sekaligus sebagai ketua SS Lewuto), Amos (gitaris karambangan), Ardjad (gitaris karambangan), Uceng dan Jeriko (Gimbe), Rivan (kudode) .

Sehari-hari SS Lewuto bermarkas di Jalan Kartini, Kelurahan Lolu Selatan juga sudah memiliki tempat tersendiri dikalangan seniman dan budayawan Sulawesi Tengah.

Sekilas Tentang Presenter ‘Notoga’

om kota
om kota
Bertubuh mungil, berkopiah, tak ketinggalan senyum khas penghias wajah ovalnya. Warga Kota Palu, Sulawesi Tengah memanggil pria bernama asli Haji Ayuba Lasira ini dengan sebutan Om Kota.
Dia adalah mantan presenter stasiun RRI Palu, yang diasuh sejak tahun 1987 hingga 2006, sekaligus sebagai masa pensiun jurnalis dan presenter radio jenaka ini di stasiun RRI.
Dalam perbincangan ringan dengan penulis, saat bertemu di lobby kantor Wali Kota Palu, Om Kota yang mengawali karir sejak 1969 di Kantor Penerangan Donggala ini dengan terkekeh, yang juga jadi cirri khasnya saat menyiar, mengaku jika beberapa kalimat yang dia ucapkan saat mengawali jam siarnya tiap hari pada pukul 16 sore, sering dijadikan taruhan oleh para penggemarnya.
Kepiawaiannya dalam mengelola suasana yang selalu dirindukan pendengar setianya adalah, kehadiran Om Kota yang selalu diawali dengan suara sirine khas kendaraan patrol petugas keamanan, jika bukan “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh,” adalah kata ‘Hallo…’. Pengucapan kata Hallo itu sendiri tetap dengan suara khas dan dialek palu yang kental.
“Ternyata banyak yang taruhkan itu saya punya salam, hehehehe…… dorang (mereka) bilang, hayo mo bilang salam atau halo Om Kota ini,” katanya.
Om Kota juga mengaku sering ditegur seseorang, karena menurut orang yang menegur lebih baik jika Om Kota mengucap salam saja kepada penggemarnya. Namun hal itu hanya dijawab dengan kelakar.
Ada yang lebih khas dari Om Kota yang kini diberi amanah untuk mengasuk salah satu program siar di TVRI Palu ini, “ekkhh….”, sendawa atau dalam bahasa Kaili disebut ‘Notoga’  jadi hal terunik dari Om Kota.
Karena notoga Om Kota merupakan isyarat, jika Om Kota baru menghadiri suatu acara pesta. Notoga juga jadi pencair suasana untuk mengirim salam kepada nama-nama yang dia sebut saat menyiar. Dan dilanjutkan dengan reportase dengan gaya khasnya, dan tak lupa diselingi dengan Bahasa Kaili. Selain untuk mendekatkan diri dengan pendengar, juga sebagai salah satu wujud kebanggaan terhadap bahasa daerah.
Kemudian, biasanya diselingi dengan cubitan-cubitan kata-katanya kepada pemerintah, terhadap berbagai situasi dan kondisi, misal : kondisi jalan, ternak berkeliaran di jalan-jalan kota dan bandara, soal kebersihan maupun kegiatan-kegiatan seremoni.
Sebab, umumnya penyiar atau broadcaster radio di Kota Palu lebih bangga jika menggunakan dialek Jakarta.
Ini juga sebagai pembeda antara Om Kota dengan penyiar-penyiar radio lainnya. Sekaligus sebagai pembeda antara stasiun swasta dengan stasiun radio pemerintah.
Memang, sapa akrab khas Om Kota tak tergantinkan. Meski telah pensiun dari RRI Palu, gaya khas Om Kota masih bisa kita nikmati di program siar talkshow TVRI Palu, pada acara ATM atau akronim dari Ayuba Tasrif Midu.
Kolumnin Palu, Neni Muhidin, pada situs pribadinya menyamakan sosok Om Kota dengan Adrian Cronauer (diperankan dengan sangat baik oleh aktor humanis Robin Williams), Americans, broadcaster, yang siaran radionya hadir dibarak-barak militer Amerika di perang Vietnam. “Good morning Vietnam…” sapaan khas pembuka siaran yang juga jadi judul film itu (1987) serupa cekat khas gaya dia, “eh, notoga”, lalu terkekeh.
Om Kota atau H Ayuba Lasira dengan ciri khas serta sentilan menggunakan Bahasa daerah adalah ikon atau sosok yang patut dibanggakan warga Kota Palu.
Salam Hormat.

Mengenal aTaman Megalitik Lore Lindu

batu megalit
Bagi Anda yang tertarik dengan hal-hal berbau megalitik, maka Taman Nasional Lore Lindu (TNLL)
taman megalitik lore lindu sulawesi tengah
yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah adalah tempat yang tepat bagi Anda. Taman Nasional Lore Lindu seluas 231.000 hektar ini memiliki beberapa tipe ekosistem hutan yang berbeda-beda,  diantaranya adalah, ekosistem hutan pamah tropika dengan curah hujan tinggi, ekosistem hutan pegunungan bawah, ekosistem hutan pegunungan, dan ekosistem-ekosistem dengan komposisi jenis yang berbeda. Selain itu Tanam Nasional Lore Lindu tidak hanya memiliki berbagai jenis flora dan fauna, tetapi juga memiliki berbagai situs zaman purba megalitik.
Taman Nasional Lore Lindu sendiri mendapat predikat sebagai tempat monumen-monumen Megalitik terbaik di Indonesia. Karena menyimpan sekira 431 situs megalitik. Beberapa jenis monumen megalitik yang ada di Taman Nasional Lore Lindu, yaitu berupa patung batu manusia, jambangan besar (kalamba), piringan (tutu’na), batu-batu cembung (batu dakon), mortir batu, dan tiang penyangga rumah yang berbeda-beda bentuknya. Berbagai studi tentang megalitik yang pernah dilakukan mengatakan bahwa situs-situs megalitik yang ada di Taman Nasional Lore Lindu berasal dari zaman 1300 SM. Megalitik tertinggi yang hingga kini masih berdiri mencapai 4 meter, tetapi kebanyakan mempunyai tinggi sekitar 1,5 – 2,5 meter.
Selain memiliki situs megalitik terbaik di Indonesia, Taman Nasional Lore Lindu juga menjadi salah satu Taman Nasional terbaik untuk mengamati berbagai jenis burung. Taman Nasional yang dinobatkan sebagai cagar biosfir atau paru-paru dunia oleh UNESCO ini memiliki sekitar 227 jenis burung yang 77 diantaranya hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu. Burung yang ditemukan di kawasan ini bervariasi, mulai berukuran kecil seperti burung cabe panggul-kelabu (Dicaeum celebicum) yang ukuran tubuhnya 9 cm, sampai berukuran sangat besar seperti julang sulawesi (Rhyticeros cassidix) dengan panjang tubuhnya sekitar 104 cm.
Tak hanya situs megalitik dan berbagai jenis burung saja yang menjadi daya tarik kawasan taman nasional ini, ada beberapa objek wisata alam yang wajib dikunjungi ketika berada disini. Disini terdapat Danau Lindu yang merupakan tempat terbaik untuk mengamati burung dan memancing,  air terjun Kamarora, dan pemandian air panas di Kadidia.
Aktifitas-aktifitas yang dapat dilakukan di Taman Nasional Lore Lindu, selain mengamati situs megalitik dan berbagai jenis burung yang ada di Taman Nasional Lore Lindu, ada banyak aktifitas lain yang dapat dilakukan disini, diantaranya jungle tracking, foro hunting, camping, hiking, memancing, dan bermain di air terjun.

Untuk akses menuju Taman Nasional Lore Lindu itu sendiri dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat melalui rute Palu-Kamarora (50 km) dengan waktu tempuh 2,5 jam, Palu-Wuasa (100 km) lima jam dan Wuasa-Besoa (50 km) empat jam dan Palu- Kulawi (80 km) sekitar enam jam . Bagi anda ynag berasal dari luar kota Palu, anda bisa mengambil penerbangan domestik dari Manado atau Makasar.

Bahaya Media Sosial Bagi Manusia Modern

Hadirnya berbagai Media Sosial (MedSos), seperti Facebook, Twitter, Path dan lainnya, seolah menjawab kebutuhan manusia zaman modern untuk berekspresi se-suka hati, atau mungkin juga bisa disebut ber-narsis-narsisan.
Missal, di media jejaring sosial Facebook, seseorang tanpa canggung berdo’a dan mendokan, mengeluarkan uneg-uneg atau apa yang terlintas di benaknya meski hanya sekejap dalam bentuk tulisan ada kolom yang disiapkan khusus oleh laman Facebook ini.
Lebih cerdas lagi ada yang menggunakan fasilitas gratis dari facebook ini untuk mengumumkan suatu hasil keputusan, bahkan belakangan ini Indonesia digemparkan dengan praktek pelacuran di jejaring sosial terbesar di dunia ini.
Bagi kalangan yang lebih memiliki intelektual, salah satu jaringan media terbesar negeri ini meluncurkan situs yang memberikan ruang sebesar-besarnya bagi siapapun yang memiliki kebiasaan mengekspresikan  letupan-letupan kegelisahan dalam benaknya terhadap apapun melalui tulisan, media Kompas menyediakan ruang kepada publik yaitu Kompasiana.com.

Sadar ataupun tidak, seluruh MedSos di atas bumi ini, terlahir dari otak seorang pengusaha, yang begitu jeli memperhatikan kebutuhan manusia-manusia modern, meski masyarakat diberi kebebasan untuk mengakses dan menggunakan secara gratis.
Mungkin Anda dan Kita telah menyadari semua itu. Namun laksana candu, MedSos telah menjebak kita semua untuk kepentingan bisnis para pemilik media tersebut. So….. stop terbelenggu dalam jebakan marketing MedSos.
Terus……bagaimana sebaiknya?
Setidaknya ini hal yang menurut penulis, dan bisa jadi tidak baik menurut Anda. Yah…menurut saya sebaiknya kita nge-Bllogg saja. Apakah menggunakan Blogspot, Wordpres atau lainnya sebagai sarana kita untuk berekspresi dalam bentuk tulisan.
Karena situs gratis Blogspot atau Wordpress bisa kita gunakan untuk bercerita kepada siapapun dan tentang apapun, entah itu tentang catatan harian, jurnal perjalanan, puisi, cerpen, berjualan. Dan prinsipnya tentang apapun…..
Kenapa sebaiknya kita nge-Blogg saja…??
Karena, jika kebetulan konten Blogg kita diminati banyak orang, kemudian banyak dikunjungi pengguna internet. Maka hal itu dipastikan akan membuat trafik dan ranking Blogg kita tinggi. Dan ini akan diapresiasi mbah Google dengan membuka peluang besar bagi kita untuk mendapat penghasilan tambahan dari mesin perambah terbesar di muka bumi ini.
Karena, meski kita juga telah begitu tergantung dengan Google, tetapi Google juga memiliki program untuk pengguna internet yang disebut dengan Google AdSense. Dan untuk ini semua tentunya tidak mudah, kita harus meningkatkan wawasan dan kemampuan Blogging kita.
Mudah-mudahan, Tuhan tetap menganugerahkan waktu dan kemamuan untuk secara khusus menulis Tips dan Trik Blogging.

Mungkin Anda berpikiran, bahwa Anda tidak memiliki alokasi waktu yang lebih untuk belajar Blogging. Soal waktu itu, tentu akan jauh lebih bermanfaat bagi diri Anda pribadi untuk mengelola Blogg pribadi. Atau Anda lebih memilih memberikan waktu Anda kepada industry media, yang pastinya beroriantasi bisnis.
Yups……. pilih mana???

Tuesday, 16 June 2015

Rezim JoKowi Sang Pengacau Kenyamanan

Semester pertama rezim Joko Widodo, mantan wali kota Solo dan Gubernur DKI ini sukses mengacaukan negeri ini. Pertama adalah murkanya sejumlah Negara terhadap Indonesia akibat dari eksekusi mati sejumlah terpidana sindikat pengedar  Narkoba.

Selanjutnya pembubaran Petral yang diyakini sejumlah pihak sebagai sarang mafia minyak di Indonesia. Yang konon pula disebut-sebut sebagai penyebab kebocoran anggaran hingga trilyunan.

Hal lainnya adalah soal sepakbola, dimana rezim ke-7 ini dengan tegas mendukung pembekuan PSSI oleh Menpora.

Bagi saya pribadi, yang menarik justru terjadinya pergeseran isu besar-besaran secara nasional, terkait situasi - kondisi bangsa ini, tentang hal utama atau ancaman sebenarnya terhadap negeri ini.

Contoh, jika rezim sebelumnya, masa SBY, negeri ini seolah tengah mengalami ancaman besar berupa aksi terorisme. Namun seketika berubah usai Jokowi  dilantik, bahwa sebenarnya negeri ini tengah menghadapi ancaman yang ternyata jauh lebih krusial, lebih besar, lebih rumit, lebih berbahaya, serta jauh lebih masiv. Narkoba.

Jika pada rezim-rezim sebelumnya, aparat keamanan hanya mampu menangkap dan mengamankan pengguna Narkoba. Alhamdulillah, di semester awal rezim presiden berwajah ndeso ini, jaringan pengedar barang haram ini seolah berkurang lahan bisnisnya.

Mirisnya lagi, dalam operasi perang melawan peredaran barang haram ini terungkap telah melibatkan hampir seluruh elemen masyarakat. Sebab, sindikat peredaran barang haram ini justru mampu merekrut para pihak yang dari aspek legalitas  berada dalam barisan pasukan penghancur peredaran Narkoba, mulai Polisi, Jaksa, Sipir penjara, dan lainnya.

Isu terorisme sendiri seolah langsung sedikit memudar kemilaunya, sejak Jokowi naik tahta di negeri ini, berganti dengan isu Narkoba. Semua pihak seakan tersadar, jika sebenarnya Indonesia begitu terjajah oleh sindikat penjahat yang telah lama mencekeram negeri ini, telah sekian lama merontokkan sendi-sendi akal sehat sebagian anak-anak bangsa, yang tak mengenal status sosial dan profesi hingga usia, baik itu pria-wanita, muda-tua, dewasa-balita, dari sipil hingga TNI/Polri.

Isu Narkoba juga sempat dipelintir sedikit pihak sebagai alat pencitraan cabinet Indonesia hebat.

Bahkan, tampilnya Jokowi di perhelatan politik nasional, pada Pilpres 2014 silam, seolah telah memporandakan tradisi politik nasional.

Hantaman isu miring terhadap sosok Jokowi, mulai dari keturunan Cina hingga antek Komunis, bahkan juga isu konyol Capres tidak ganteng disematkan ke pribadi Jokowi.

Diangkatnya Susi Pudjiastuti, yang disebut hanya tamatan SMP turut membalik dogma dunia politik nasional.

Keberhasilan Jokowi membalik tradisi politik nasional inilah, yang saya pahami sebagai program Revolusi Mental.

Anda ingin menambahi?

Curcollogi-ku

CurCollogi, akronim dari kata yang diakronimkan juga. Curhat (curahan hati) + Colongan + Logos. Curhat sendiri saya pahami dengan tindakan seseorang yang tengah berusaha membebaskan diri dari situasi jiwa yang membuatnya tidak nyaman. Atau sedang berusaha mengeluarkan uneg-uneg dalam dirinya.
Colongan, adalah sesuatu atau bisa juga berupa barang yang berasal dari kegiatan tidak seharusnya.
Tetapi definisi dari Curcollogi diatas, hanyalah sebuah kotak dari arti dan makna yang saya buat secara pribadi. Jika ada yang lebih tepat, mungkin berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, silahkan itu yang Anda pegang, dan kita tidak perlu mengalokasikan waktu untuk membahasnya. Karena itu mungkin kotak atau definisi yang sah, benar dan sesungguhnya.
Karena kata Curcollogi yang saya gunakan untuk nama/domain bllogg ini adalah kotak yang saya buat untuk diri saya sendiri. Dan kotak ini saya buat sebagai wadah untuk mencurahkan sikap/pandangan/pendapat pribadi saya, selama berjalan diatas bumi ini sebagai seorang Jurnalis.
Meski demikian, Anda juga tidak diharamkan untuk ikut serta ber-Curcollogi di Blogg ini, itupun jika Anda siap dan bersedia untuk melepas status ke-waras-an diri Anda.
lahan tani lahan tani lahan tani lahan tani